| Bung Karno dan Fatmawati beserta anak-anaknya |
Begitulah penggalan bunyi amanat Bung Karno, yang dimaksud adalah daerah Batu Tulis Bogor. Kenapa Bung Karno sampai dimakamkan di Blitar? Menurut Sukmawati, karena kehendak pemerintah Orde Baru, Soeharto yang memutuskan. Alasan yang digunakan oleh pemerintah cenderung sangat politis, karena makam Ibu Bung Karno ada di Blitar.
"Keluarga kami sangat kecewa, karena amanat bapak untuk dimakamkan di Batu Tulis tidak terlaksana", kata Sukmawati ketika Bung Karno meninggal. Ratna Sari Dewi mengungkapkan, "Pada waktu Pak Harto bikin keputusan bahwa makam bapak di Blitar, saya dan Hartini datang ke rumah Pak Harto di Cendana No. 8, meminta langsung pada Pak Harto agar tidak mengirim jenazah bapak ke Blitar." (Tiras, 14 Juli 1997).
Dari semula, harapan dan permintaan keluarga Bung Karno ditolak, tak pernah digubris pemerintah dengan alasan yang beragam. Banyak orang menilai alasan yang digunakan pemerintah saat itu kurang logis.
Alasan pemerintah memakamkan Bung Karno di Blitar melahirkan pendapat yang tidak logis. Sering terjadinya penjegalan-penjegalan terhadap bau-bau Soekarnoisme, dugaan yang muncul tak lebih dari pertimbangan kepentingan politik.
Jika Bung Karno dimakamkan di Bogor yang letaknya sangat dekat dengan Jakarta, ditakutkan para pengikutnya akan berduyun-duyun dan bercokol disana, membangun lagi basis Soekarnoisme akan mengganggu stabilitas pembangunan ekonomi yang sedang dirintis oleh pemerintah Soeharto.
Ketika masih menjalani tahanan rumah (dikarantina) selama (1967 - 1970), Bung Karno tidak boleh dijenguk oleh siapapun kecuali keluarga. Itupun mesti izin dulu, sampai Bung Karno bertanya, "Apa salah diri saya, sehingga diperlakukan bagai sebutir virus menakutkan?"
Berbahayakah Bung Karno? Yang jelas kharisma dan pemikirannya yang agak ditakutkan oleh pemerintah Orde Baru. Karena ajaran Bung Karno dianggap sebagai barang "HARAM". Dan meski sudah wafat, Soeharto masih tega menyimpangkan keinginan terakhir untuk dimakamkan di Bogor.
Bila disimak, perilaku buruk rezim Soeharto pada Bung Karno bermula dari langkah Ali Murtopo CS, yakni menyingkirkan semua pendukung Soekarno dari MPRS, dan memisahkan massa pendukungnya Soekarno.
Dalam sidang MPRS, lahir TAP MPRS No. XXXIII Tahun 1967. Menurut pasal 3, Soekarno dilarang melakukan kegiatan politik sampai dengan pemilu. Bukan itu saja, Bung Karno diisolasi secara total. Yang tak masuk nalar, kenapa haknya sebagai manusia dan bapak sebisanya dihabisi sampai tuntas?
Betapa ngerinya ketika seorang bapak yang menderita penyakit ginjal akut diisolasi secara total tanpa boleh ditemui orang lain kecuali keluarga. Pertemuan keluarga pun diawasi secara ketat, Soekarno tidak boleh membaca koran, mendengar radio, bahkan sekedar menyaksikan televisi.
Wajarkah, jika seorang bapak mengalami koma selama 6 jam menjelang ajal kematiannya, pihak keluarga tidak boleh hadir di dekatnya. Demikianlah Bung Karno diperlakukan menjelang kematiannya, "Bapakk dan kami benar-benar diperlakukan sangat tidak manusiawi." kenang Hartini Soekarno. Dan Mahar Mardjono ketua tim dokter yang pernah ditugasi merawat Bung Karno, bisa cerita banyak soal itu.
Baca Juga : Keluarga Bung Karno Diperlakukan Semena-mena
Tidak ada komentar:
Posting Komentar